Selasa, 10 April 2012

UTS Paedagogi T.A 2011/2012

Posting ini berfungsi sebagai media Ujian Tengah Semester TA. 2011/2012

6 komentar:

  1. 1. Apa yang dapat adinda jelaskan sehubungan dengan Pedagogi Modern? lalu beri ilustrasi bandingan antara proses pembelajaran yang adinda dapatkan saat perkuliah dengan uraian teori tersebut.

    BalasHapus
  2. Selamat Pagi bu :). Terima kasih untuk soal pertama yang diberikan kepada saya. :)


    Berbicara mengenai Pedagogi Modern, pasti tidak terlepas dari pandangan tradisional, mengapa? Karena pedagogi modern merupakan perkembangan dari pedagogi tradisional, dimana memposisikan paedagogi hanya sebatas seni mengajar dan mengasuh saja. Namun, di zaman yang modern ini, paedagogi merupakan sebagai ilmu dan sebagai seni. Maksudnya yaitu, untuk melakukan pembelajaran, maka kegiatan belajar dan mengajar harus berbasis dan dipandu oleh ilmu serta harus melibatkan intuisi, improvisasi dan ekspresi. Jadi, di zaman modern ini, guru dan murid harus lebih aplikatif dalam proses belajar mengajar.
    Ada beberapa definisi yang terkait dengan pedagogi modern, yaitu sebagai berikut :
    a. Pengajaran (teaching) merupakan metode dan teknik kerja guru dalam mentransformasikan konten pengetahuan, merangsang, mengawasi serta memfasilitasi pengembangan siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran yang baik.
    b. Belajar (learning) merupakan proses siswa mengembangkan kemandirian dan inisiatif dalam memperoleh dan meningikatkan pengetahuan dan keterampilan.

    Jadi, jika dikaitkan dari uraian diatas dengan apa yang saya dapatkan selama proses perkuliahan berlangsung, tentu saja proses belajar mengajar yang saya dapatkan merupakan terapan dari pedagogi modern dalam mata kuliah Pedagogi, mengapa? Karena dalam mentransformasikan pengetahuan, dosen pengampu awalnya merangsang mahasiswa untuk lebih ekpresif dalam mengemukakan pendapatnya, sehingga mahasiswa menjadi kritis terhadap suatu pernyataan yang di ungkapkan oleh dosen pengampu, kemudian dosen mengawasi (membimbing) mahasiswanya dalam setiap proses pembelajaran, selain itu dosen juga menggunaan fasilitas yang selama ini kurang diketahui oleh mahasiswa seperti penggunaan e-learning Universitas Sumatera Utara sebagai media chatting selama proses pembelajaran Pedagogi. Yang menariknya, mata kuliah Pedagogi juga langsung menerapkan teori-teori yang telah dipelajari di dalam kehidupan nyata, seperti adanya praktek lapangan Micro Teaching yang membuat mahasiswa langsung turun ke lapangan untuk menerapkan teori-teori yang sudah dipelajarinya. Hal ini dapat merangsang mahasiswa menjadi lebih kritis, kreatif dan dapat memecahkan masalah dalam kelompok. Jadi, dapat disimpulkan bahwa proses belajar mengajar yang diterapkan dalam mata kuliah Pedagogi, merupakan aplikasi dari Pedagogi modern yang sesuai dengan prinsip-prinsip Pedagogi Modern.

    BalasHapus
  3. 2. jelaskan tentang konsep micro teaching kelompok adinda. Kemudian sertakan kajian teori yang mendukung menurut pendapat pribadi anda.

    BalasHapus
  4. Konsep micro teaching kami yang bertemakan ‘Go Green’ , bertujuan untuk mengajarkan serta mengenalkan kepada anak - anak di TK Dharma Pancasila Medan untuk menjaga lingkungan dengan memanfaatkan barang - barang bekas yang ada disekitar lingkungan mereka. Mengapa rujukan kami memanfaatkan barang bekas ? Karena barang bekas merupakan sampah kecil yang dapat menimbulkan pengaruh besar terhadap lingkungan hidup kita. Jadi, untuk meminimalkan banyaknya sampah yang tidak digunakan di lingkungan kita, pemanfaatan barang bekas merupakan sedikit solusi untuk mengurangi pencemaran lingkungan. Barang bekas yang biasanya menjadi sampah dan tidak diperhitungkan keberadaannya, maka kami mencoba mengolah barang bekas menjadi benda bermanfaat yang bernilai seni dan ekonomi.

    Tema ‘Go Green’ kami pilih dalam Micro Teaching ini, karena anak - anak biasanya kurang perduli terhadap lingkungan sekitarnya, contohnya apabila mereka mengonsumsi makanan ringan, mereka langsung membuang kemasannya di sembarang tempat. Barang bekas yang akan kami olah adalah botol kemasan bekas air mineral, akan dibuat menjadi prakarya berupa celengan. Sebagai pengajar mata pelajaran prakarya, tugas kami yaitu membimbing anak - anak untuk mengolah botol minuman bekas menjadi celengan yang unik dan menarik sesuai dengan kreativitas anak-anak tersebut.

    Konsep micro teaching ini nantinya dilakukan sebagai berikut , diawali dengan perkenalan dan beradaptasi dengan audience kemudian membagi kelompok menjadi 5 kelompok, yang terdiri dari 3 orang/kelompok. Setelah audience merasa nyaman dengan keberadaan kami, maka kami mulai memberitahukan apa tujuan kami datang ke sekolah tersebut dan mulai memberikan instruksi kepada mereka untuk membuat prakarya berupa celengan dari botol minuman bekas. Walaupun dari barang bekas, tetapi kami tetap menjamin kebersihan barang bekas yang kami gunakan . Anggota kelompok kami terdiri dari 7 orang yang memiliki tugas masing-masing dimana 1 orang memberi instruksi keseluruhan dari pengolahan botol bekas sampai menjadi celengan, 1 orang mendokumentasikan proses micro teaching dan 5 orang terbagi kedalam 3 kelompok murid untuk memandu dan mengawasi pengerjaan prakarya anak-anak TK tersebut.

    Konsep Micro teaching ini termasuk dalam kategori "pengetahuan paedagogis formal" dan "pengetahuan paedagogis vernakular" (McNamara, 1991). Paedagogi formal yaitu paedagogi teoritis atau ilmiah, dan paedagogi vernakular bermakna paedagogis praktis. Jadi, teori-teori yang telah dipelajari akan langsung di aplikasikan ke lapangan melalui kegiatan Micro teaching ini.

    Banyak orang-orang mengatakan bahwa mengajar adalah ilmu. Bagi orang-orang tersebut, kegiatan mengajar harus berbasis ilmu dan menekankan aspek ilmiah dalam kegiatan pengajaran serta berfokus pada sistematisasi komunikasi antara guru dan siswa. Selain itu, ada juga orang yang menyebutkan bahwa mengajar adalah seni. Nah, orang-orang ini percaya bahwa mengajar sebenarnya melibatkan intuisi, improvisasi, dan ekspresi. Bagi orang-orang yang menganut "kegiatan mengajar sebagai seni", efektivitas mengajar tergantung pada kreativitas, penilaian yang baik, dan wawasan yang tinggi. Jadi, kesimpulannya, untuk meningkatkan proses belajar mengajar yang efektif di TK Dharma Pancasila Medan, kami menggunakan pendekatan seni dan ilmu dalam mengajar dimana kami mengharapkan adanya komunikasi yang baik antara guru dan siswa serta menuntut adanya kreativitas anak-anak dalam kegiatan memanfaatkan barang bekas ini.

    BalasHapus
  5. Remedial No : 2


    Konsep micro teaching kami yang bertemakan ‘Go Green’ , bertujuan untuk mengajarkan serta mengenalkan kepada anak - anak di TK Dharma Pancasila Medan untuk menjaga lingkungan dengan memanfaatkan barang - barang bekas yang ada disekitar lingkungan mereka. Mengapa rujukan kami memanfaatkan barang bekas ? Karena barang bekas merupakan sampah kecil yang dapat menimbulkan pengaruh besar terhadap lingkungan hidup kita. Jadi, untuk meminimalkan banyaknya sampah yang tidak digunakan di lingkungan kita, pemanfaatan barang bekas merupakan sedikit solusi untuk mengurangi pencemaran lingkungan. Barang bekas yang biasanya menjadi sampah dan tidak diperhitungkan keberadaannya, maka kami mencoba mengolah barang bekas menjadi benda bermanfaat yang bernilai seni dan ekonomi.

    Tema ‘Go Green’ kami pilih dalam Micro Teaching ini, karena anak - anak biasanya kurang perduli terhadap lingkungan sekitarnya, contohnya apabila mereka mengonsumsi makanan ringan, mereka langsung membuang kemasannya di sembarang tempat. Barang bekas yang akan kami olah adalah botol kemasan bekas air mineral, akan dibuat menjadi prakarya berupa celengan. Sebagai pengajar mata pelajaran prakarya, tugas kami yaitu membimbing anak - anak untuk mengolah botol minuman bekas menjadi celengan yang unik dan menarik sesuai dengan kreativitas anak-anak tersebut.

    Konsep micro teaching ini nantinya dilakukan sebagai berikut , diawali dengan perkenalan dan beradaptasi dengan audience kemudian membagi kelompok menjadi 5 kelompok, yang terdiri dari 3 orang/kelompok. Setelah audience merasa nyaman dengan keberadaan kami, maka kami mulai memberitahukan apa tujuan kami datang ke sekolah tersebut dan mulai memberikan instruksi kepada mereka untuk membuat prakarya berupa celengan dari botol minuman bekas. Walaupun dari barang bekas, tetapi kami tetap menjamin kebersihan barang bekas yang kami gunakan . Anggota kelompok kami terdiri dari 7 orang yang memiliki tugas masing-masing dimana 1 orang memberi instruksi keseluruhan dari pengolahan botol bekas sampai menjadi celengan, 1 orang mendokumentasikan proses micro teaching dan 5 orang terbagi kedalam 3 kelompok murid untuk memandu dan mengawasi pengerjaan prakarya anak-anak TK tersebut.

    Menurut pendapat saya, konsep Micro teaching ini termasuk dalam kategori "pengetahuan paedagogis formal" dan "pengetahuan paedagogis vernakular" (McNamara, 1991). Paedagogi formal yaitu paedagogi teoritis atau ilmiah, dan paedagogi vernakular bermakna paedagogis praktis. Jadi, teori-teori yang telah saya pelajari akan langsung di aplikasikan atau dipraktekkan ke lapangan melalui kegiatan Micro teaching ini.

    Selain itu, banyak orang-orang mengatakan bahwa mengajar adalah ilmu. Bagi orang-orang tersebut, kegiatan mengajar harus berbasis ilmu dan menekankan aspek ilmiah dalam kegiatan pengajaran serta berfokus pada sistematisasi komunikasi antara guru dan siswa. Selain itu, ada juga orang yang menyebutkan bahwa mengajar adalah seni. Nah, orang-orang ini percaya bahwa mengajar sebenarnya melibatkan intuisi, improvisasi, dan ekspresi. Bagi orang-orang yang menganut "kegiatan mengajar sebagai seni", efektivitas mengajar tergantung pada kreativitas, penilaian yang baik, dan wawasan yang tinggi. Jadi, kesimpulannya, untuk meningkatkan proses belajar mengajar yang efektif di TK Dharma Pancasila Medan, kami menggunakan pendekatan seni dan ilmu dalam mengajar dimana kami mengharapkan adanya komunikasi yang baik antara guru dan siswa serta menuntut adanya kreativitas anak-anak dalam kegiatan memanfaatkan barang bekas ini.

    BalasHapus