Rabu, 26 September 2012

Fungsi Umum Teori Belajar


           1.  Fungsi Umum Teori Belajar
a.       Sebagai kerangka riset
Contoh :  Penerapan teori operan conditioning dalam memotivasi saya ketika belajar. Ketika saya mulai menerapkan teori operan conditioning dalam kehidupan saya, terutama dalam belajar, saya merasa ada peningkatan kinerja saya.
Ketika saya selesai mengerjakan tugas saya, maka saya akan menghadiahi diri saya dengan membelikan makanan kesukaan saya. Jadi, hal ini akan meningkatkan semangat saya dalam mengerjakan tugas-tugas lainnya.

b.      Memberikan kerangka organisasi untuk item-item organisasi
Contoh : Saya memiliki skema tentang sifat-sifat dari saudara-saudara sepupu saya. Jadi, ketika saya menghadiri acara keluarga, maka saya akan bersikap sesuai dengan skema yang saya miliki terhadap sepupu saya. Hal itu bertujuan agar saya tidak salah bertingkah laku di hadapan mereka. Jadi, apabila ada sepupu saya yang memiliki sifat cuek, maka saya akan bersikap ramah terhadapnya dan sebagainya.

c.       Mengidentifikasi sifat dari peristiwa yang kompleks
Contoh : Ketika SMP, orang-orang disekitar saya sering sekali membicarakan tentang peristiwa ‘global warming’. Awalnya saya tidak mengerti tentang fenomena ’global warming’tersebut . Namun, dengan pencarian informasi dari berbagai smber, saya kemudian apa itu fenomena ‘global warming’ dan mengapa bisa terjadi. Sehingga, suatu hari ketika ada seseorang bertanya kepada saya apa itu global warming, saya dapat menjawab pertanyaannya tersebut.


d.      Mereorganisasi pengalaman sebelumnya
Contoh : Ketika saya duduk di kelas 1 SMA, saya merupakan siswa yang kurang memberikan atensi terhadap mata pelajaran matematika. Namun, ketika saya berhasil mendapatkan nilai yang bagus ketika ulangan, saya langsung merasa semangat dalam belajar matematika. Kedepannya, saya merasa positif dalam menerima setiap pelajaran matematika yang  diajarkan oleh guru matematika di sekolah saya.

e.       Bertindak sebagai penjelasan kerja dari peristiwa
Contoh : Saya mencoba menerapkan teori pengkondisisan klasik , dimana subjek percobaan saya adalah kelinci saya sendiri. Kelinci yang saya pelihara (Piero), awalnya tidak menuruti dan menjauhi saya ketika saya mendekatinya. Namun, suatu hari saya menerapkan pengkondisian klasik untuk membuatnya datang mendekati saya. Jadi, pada minggu pertama, saya menyediakan piring dan sendok beserta satu ikat kangkung. Kemudian, piring dan sendok saya pukul-pukul sehingga menimbulkan suara. Awalnya, kelinci saya tetap menjauhi saya karena ia merasa takut dengan kehadiran saya. Selama seminggu saya  melakukan hal tersebut. Setelah dua minggu berlalu, ketika saya membawa piring dan sendok beserta satu ikat kangkung mendekati kandang kelinci saya, tiba-tiba kelinci saya  datang mendekati saya dan dia jadi terbiasa ketika saya datang mendekati kandangnya. Jadi, saya berkesimpulan bahwa percobaan clasiccal conditioning saya berhasil terhadap kelinci saya.

      2.    Perspektif Psikologis Tentang Faktor-faktor Utama dalam Belajar
a.       Perspektif Behavioris
Perspektif behavioris ini, membahas tentang hasil belajar, penguatan, reward, serta punishment terhadap subjek penelitian. Perspektif ini meliputi pengkondisian klasik, pengkondisian operan, serta koneksionisme.
Teori behavioris ini terdapat dalam contoh pengalaman saya di atas, yaitu pengkondisian klasik pada kelinci, dan pengkondisian operan pada diri saya sendiri. Hasil dari pengkondisian klasik yaitu, kelinci saya menjadi dekat dengan saya, dan hasil dari pengkondisian operan yaitu saya merasa semangat belajar karena saya merasa mendapatkan reward ketika saya berhasil mngerjakan tugas-tugas saya. Selain itu hal ini juga terdapat pada contoh pengalaman saya, ketika saya mendapatkan penguatan positif, yaitu nilai bagus dalam mengerjakan soal matematika, maka ke depannya saya memberikan atensi terhadap pelajaran matemattika. Hasilnya, saya dapat memahami pelajaran matematika dengan baik.

b.      Perspektif Kognitif
Perspektif kognitif membahas cara individu mengambil informasi dari lingkungan, kemudian memprosesnya, menyimpan dan mengambil kembali informasi itu ketika dibutuhkan. Selain itu, perspektif ini juga membahas tentang analisa ataupun pemecahan masalah. Hal ini juga terdapat dalam conoh pengalaman saya yang tertera di atas dalam fungsi mengidentifikasi sifat dari peristiwa yang kompleks, yaitu saya berusaha mencari informasi tentang fenomena ‘global warming’ kemudian saya menyimpan informasi tersebut lalu me-recall kembali informasi yang saya dapatkan untuk saya gunakan.

c.       Perspektif Interaksionis
Dalam perspektif interaksionis, terdiri dari kondisi belajar Gagne dan teori kognitif sosial bandura. Jadi, contoh pengalaman pada fungsi emberikan kerangka organisasi untuk item-item organisasi, perilaku saya akan dipengaruhi oleh faktor internal , eksternal serta faktor personal dalam menunjukkan perilaku saya. Hal ini agar tidak menimbulkan kesalahan persepsi di antara sepupu-sepupu saya.

d.      Teori Perkembangan Interaksional
Tahap perkembangan saya ketika SMP, itu belum cukup untuk banyak mengetahui tentang hal-hal yang yang ada disekitar saya. Hal ini terjadi ketika saya mencari informasi tentang fenomena ‘global warming’ , walaupun informasi yang saya sampaikan kepada orang lain tersebut terdapat kesalahan, namun perkembangan kognitif saya telah mampu menampung kapasitas tentang informasi baru yang saya terima.

Sabtu, 15 September 2012

HASIL DISKUSI ANALISIS KELOMPOK


Anggota          :
Konsep penguatan dari Skinner efektif untuk memunculkan perilaku baru yang diharapkan. Penguatan ini bisa bersifat positif dan bisa bersifat negative. Penguatan yang bersifat positif bila diberikan akan memunculkan perilaku baru atau mempertahan perilaku yang lama yang memang diinginkan. Sebaliknya penguatan negative akan mengurangi perilaku yang tidak diharapkan. Tetapi pada kasus Ririn (Sri Rizki Amanda) dan Qiqi (Rizqi Chairiyah) penguatan negative yang diberikan malah menguatkan perilaku yang tidak diharapkan (Ex: tidak termotivasi untuk belajar).
 
Skinner juga memberikan konsep jadwal penguatan, yaitu : fixed ratio, fixed interval, variable ratio, variable interval. Penjadwalan penguatan memegang peranan penting dalam memunculklan perilaku. Terlihat dari kasus Anggi (Fauziah Nami), yang diberikan penguatan secara konsisten, yitu setiap 6 bulan sekali. Hal tersebut memberikan efek positif pada anak yang semakin termotivasi untuk meningkatkan nilainya.
NB : Untuk membaca kasus Ririn, Qiqi, dan kasus Anggi, reader dapat membukan Link pada nama anggota kelompok diatas. Terimakasih... (♥o♥)

Rabu, 12 September 2012

Analisa Pengalaman Pribadi

Pengalaman Rizqi

Ketika saya duduk di bangku Sekolah Dasar, tepatnya di kelas 3 , saya memiliki pengalaman yang saya rasa berdampak negatif terhadap perilaku saya.

Nah, jadi ketika mata pelajaran Matematika, ibu guru selalu memberikan kami kuis di akhir pelajaran. Hal itu dilakukannya untuk menguji pemahaman kami tentang penjelasan yang beliau berikan. Tapi ada yang berbeda dalam sistem pengajaran yang diberikan oleh ibu guru pada mata pelajaran ini .

Jadi, setiap hasil kuis yang sudah keluar, maka akan dipajang di depan pintu kelas. Nah, pada saat itu, (saya tidak ingat caturwulan berapa) saya mendapatkan nilai yang kurang bagus hanya 45 dari 7 soal . Nah, karena hal tersebut, saya merasa malu ketika ada anak kelas lain yang mengenali saya dan kemudian mengolok-olok saya karena saya mendapatkan nilai yang buruk .Hal tersebut sering dilakukannya, ketika di kantin dan ketika di bus. Jadi, saya merasa malu karena mendapatkan ejekan dari teman saya itu.

Setiap kuis diadakan, saya dan teman-teman lain hanya mendapatkan nilai di bawah 60, hanya 2 orang yang berhasil mendapatkan nilai bagus pada mata pelajaran ini, yaitu A dan M. Saya sempat merasa terpacu dan termotivasi dalam memahami pelajaran Matematika.Namun, karena kuis Matematika selalu diberikan dan nilai selalu di pajang di depan pintu kelas ,maka saya lama-kelamaan merasa malu ketika saya mendapatkan nilai yang buruk , karena hal tersebut akhirnya saya kurang berminat dan membenci pelajaran Matematika. Jadi, setiap ada pelajaran Matematika , maka saya merasa kurang termotivasi untuk mempelajarinya.



Pembahasan dengan Teori Skinner

Jika dilihat dari pengalaman di atas, maka hal tersebut merupakan penguatan negatif (reinforcement negative). Mengapa ?  Karena, pada awalnya saya memiliki minat terhadap pelajaran Matematika, namun karena saya mendapat ejekan (penguatan negatif) dari teman saya, maka saya merasa malu dan kehilangan minat terhadap pelajaran Matematika. Selain itu, guru tetap melakukan perbandingan dengan teman-teman sekelas saya, yaitu dengan cara memajang hasil kuis di depan pintu kelas, menurut saya hal itu memang dapat memotivasi siswa, namun jika lama-kelamaan hal tersebut dilakukan, maka bagi anak yang memiliki motivasi rendah, maka itu akan jadi penghindaran bagi dirinya.

Penguatan negatif (ejekan) dari teman saya dilakukannya setiap waktu ia berjumpa dengan saya, di bus dan di sekolah. Nah, hal ini sejalan dengan teori penjadwalan penguatan Skinner, dimana  jadwal penguatan negatif yang diberikan bersifat fixed rasio dimana teman saya selalu memberikan ejekan hanya pada kesempatan dia bertemu dengan saya , baik di kantin ataupun di bus ketika pulang dan pergi.

Selasa, 11 September 2012

PENGKONDISIAN BERPENGUAT SKINNER

Anggota Kelompok
1. Rizqi Chairiah (10-007)
2. Fauziah Nami Nasution (10-016)
3. Sri Rizki Amanda (10-018)


Prinsip-prinsip Belajar
Skinner percaya bahwa psikologi dapat menjadi sains hanya melalui studi perilaku, dimana Skinner mempelajari jenis perilaku yang tidak secara otomatis dipicu oleh stimulus tertentu.
            Menurut Skinner tujuan dari setiap ilmu pengetahuan, terutama sains adalah menemukan hokum-hukum relasi yyang jelas di antara kejadian—kejadian di lingkungan. Begitu juga, tugas untuk ilmu perilaku adalah menemukan relasi di antara kejadian lingkungan dengan perilaku. Ada beberapa asumsi untuk mendukung studi perilaku Skinner, yaitu :
1.      Belajar adalah perubahan perilaku
2.      Perubahan perilaku secara fungsional berkaitan dengan perubahan dalam lingkungan atau kondisi
3.      Hukum relasi antara perilaku dan lingkungan dapat ditemukan hanya jika sifat dari perilaku dan kondisi eksperimental didefinisikan dalam istilah fisik dan diamati di bawah kondisi yang terkontrol
4.      Data dari studi eksperimental adalah sumber informasi tentang penyebab perilaku yang dapat diterima
5.      Perilaku subjek adalah sumber data yang tepat
6.      Dinamika interaksi organisme dengan lingkungan adalah sama untuk semua spesies
Asumsi ini penting untuk memenuhi syarat psikologi agar menjadi ilmu pengetahuan ilmiah dan dapata diaplikasikan dalam kehisupan sehari-hari. Secara spesifik, Skinner mendefinisikan belajar sebagai perubahan perilaku.
Dengan mengadaptasi riset Thorndike tentang tiga komponen penting dari perubahan perilaku, yaitu : (a) kesempatan di mana perilaku terjadi; (b) perilaku itu sendiri; dan (c) konsekuensi dair perilaku. Berbeda dengan teori Thorndike yang menyebut konsekuensi yang menyebabkan peningkatan perilaku sebagai imbalan (reward), sedangkan Skinner menyebut imbalan dengan konsekuensi yang menguatkan (reinforcing consequences) dan penguatan (reinforcement). Penguatan adalah setiap konsekuensi behavioral yang memperkuat perilaku; yaitu, penguat meningkatkan frekuensi respons. Skinner mengidentifikasi tiga komponen belajar sebagai stimulus diskriminatif (), respons (R) dan stimulus penguat () dan konsekuensi peristiwa belajar adalah () – (R) – ().
Stimulus diskriminatif adalah stimulus yang secara konsisten hadir ketika respons menghasilkan penguatan. Melalui asosiasi yang berulang dengan respons yang diperkuat, stimulus diskriminatif menjadi isyarat behavioral untuk respons tersebut. Seringnya, stimulus diskriminatis berupa kejadian lingkungan dan pernyataan verbal dari orang lain.
Penguatan adalah konsekuensi behavioral yang menigkatkan frekuensi respons. Agar efektif, konsekuensi itu haru muncul segera setelah pelaksanaan perilaku tertentu. Fungsi penting dari penguatan dalam khidupan sehari-hari adalah mencegah lenyapnya perilaku (extinction). Ada tiga factor yang di asosiasikan memengaruhi sejauh mana kejadian tertentu berfungsi sebagai penguat, yaitu : keterampilan individual, sejarah penguatan masa lalu, dan karakteristik warisan. Terdapat tiga klasifikasi penguat, yaituu : (a) primer atau sekunder; (b) umum/digeneralisasikan; dan (c) positif atau negative.
Praktik Kultural dan Pengkondisian Berpenguat
            Skinner (1981) berpendapat bahwa proses dalam mengkondisikan perilaku individual, melalui 2 level : Pertama, evolusi biologis dari makhluk hidup; Kedua adalah perkembangan kultur. Skinner (1989b, h. 52) mendefinisikan kultur sebagai kontingensi yang dipertahankan oleh kelompok. Contoh : perayaan Thanksgiving , dimana perayaan ini diperkuat secara positif dengan dihadirkannya makanan lezat dan penguat sosial, seperti persahabatan.Kontingensi penguatan dalam praktik cultural akan membentuk perilaku dari setiap anggota kelompok. Praktik sosial di transmisikan ketika anggota membentuk perilaku dari anggota baru.
Tingkat spesialisasi pekerjaan dalam masyarakat kontemporer telah mereduksi kesempatan untuk penguatan. Masalah lain dalam peradaban Barat yaitu melimpahnya hal-hal yang dideskripsikan sebagai “menarik, cantik,indah,lezat, menghibur dan menggairahkan” (Skinner, 1987, h. 23).Perilaku yang diperkuat oleh kemudahan akses ke hal-hal yang indah dan menyenangkan adalah perilaku melihat dan mendengar. Dengan kata lain, akses mudah ke penguatyang menyenangkan akan menciptakan situasi dimana “penguat tidak bergantung pada jenis perilaku yang mempertahankan individu atau mempromosikan kelangsungan budaya atau makhluk hidup” (Skinner, 1987, h. 24).
Sifat Belajar yang Kompleks
            Hukum efe menyebutkan hubungan antara suatu respons dengan konsekuensi (Skinner, 1953, 1963b). Faktor-faktor yang berfungsi dalam akuisisi pola perilaku adalah pembentukan, jadwal penguatan, konsep kegunaan negative, dan perilaku yang diatur.
Pembentukan
Pembentukan perilaku baru menggunakan sederet stimulus diskriminatif yang didesain dengan cermat, dan penguatan untuk perubahan respon yang dapat membuat subjek bersiap untuk mengambil langkah selanjutnya dalam urutan perilaku.
            Proses pembentukan dimulai dengan member penguatan untuk respon yang diinginkan. Setelah penguatan awal terhadap kontak ini, penguatan ditahan lagi sampai ada peningkatan perilaku. Prosedur dari penguatan pertama memperkuat respons yang mirip dengan respons yang diharapkan, dan kemudian memperkuat respons dengan cara memperbaiki respons. Prosedur ini dinamakan perkiraan penguatan berturut-turut (reinforcing successive approximations) atau penguatan differensial(Skinner,1953,1968b, 1989b).
            Arti penting dari pembentukan yaitu dapat menimbulkan perilaku yang kompleks yang hampir tidak memiliki kemungkinan yang terjadi secara alamiah dalam hasil akhirnya (Skinner, 1963a). Peforma dari respons yang tepat yaitu terjadi secara acak, kebetulan, maka respons yang salah juga mungkin terjadi.
Jadwal Penguatan
            Sebagian besar perilaku hanya menimbulkan penguatan yang berselang-seling atau intermittent, seperti menulis. Di dalam laboraturium, penguatan berselang-seling ini bisa diberikan secara tepat sesuai dengan jadwal yang berbeda atau kombinasi jadwal. Dasar untuk beberapa jadwal yaitu jumlah respons yang dimunculkan oleh subjek, disebut sebagai penguatan rasio.
            Dalam jadwal tetap, baik rasio maupun interval, respons biasanya melambat setelah penguatan dan kemudian rata-ratanya meningkat secara gradual. Pelambatan ini bisa dihindari melalui penggunaan jadwal variabel. Penguatan berselang-seling pada setiap jadwal dapat menjaga perilaku selama periode waktu yang lama. Jadwal yang terutama efektif adalah jadwal variabel-rasio. Pada mulanya penguatan sering diberikan, tetapi kemudian pelan-pelan dikurangi. Jadwal variabel-rasio berguna karena mencegah hilangnya perilaku ketika penguatan menjadi jarang (Skinner, 1989b, h. 77). Salah satu keuntungan dari penguatan rasio-variabel adalah mempertahankan perilaku dari pelenyapan (extinction) ketika penguatannya jarang.
Konsep Kegunaan Negatif
            Dalam beberapa situasi, jadwal variabel-rasio dapat menimbulkan kerugian dalam jangka panjang bagi subjek. Meskipun pada awalnya menguatkan, penggunaan jangka panjang akan menimbulkna penguat negative yang kuat, yang dinamakan gejala melepaskan diri (withdrawal symptoms). Kondisi jangka panjang ini merupakan kondisi kegunaan negatif; semakin berat kecanduannya, maka semakin besar usaha yang diperlukan untuk melepaskan diri, sementara keadaan fisik dan emosional individu juga semakin memburuk. Contohnya : Kecanduan berjudi.
Perilaku yang Diatur Peraturan (Rule-Governed)
            Seseorang lebih sering melakukan apa yang diperintahkan oang lain untuk melakukannya—merka mengikuti saran (Skinner, 1987,h.21). Biasanya saran itu berbentuk saran verbal atau instruksi. Selain saran informal, perilaku yang diatur oleh aturan juga dapat diperoleh melalui pernyataan formal, aturan hukum,etika,dan praktik religious suatu masyarakat. Hukum dan prosedur kultur yang dikodifikasi merupakan hal yang penting, dikarenakan 2 hal, yaitu : pertama, mereka membantu individu mendapat manfaat dari pengalaman orang lain. Kedua, mereka juga membantu kelompok untuk memuji dan mengecam secara konsisten (Skinner, 1989b).
            Perilaku yang diaur oleh peraturan dan diatur oleh kemungkinan, merupakan dua hal yang berbeda. Dalam kondisi yang diatur oleh kemungkinan, perilaku dilaksanakan secara efektif. Contoh : belajar mengendarai mobil (perilaku yang diatur aturan). Perbedaan selanjutnya yaitu, hanya konsekuensi respons langsung untuk perilaku yang diatur kemungkinan yang akan mengubah kemungkinan respons di masa depan. Dalam kondisi yang diatur peraturan, respons apa yang terjadi tidak dapat dipastikan (Skinner, 1953,h.147).

PRINSIP PEMBELAJARAN
Asumsi Dasar
            Keyakinan Skinner tentang hakikat sekolah dan belajar di kelas, merupakan parameter dari tekhnologi pengajarannya.
Hakikat Pendidikan
            Sekolah umum didirikan untuk memberikan bimbungan perorangan pada sekelompok siswa (Skinner, 1989b). Namun, karena jumlah siswa terus bertambah, maka perhatian personal menjadi “jarang” (h.86). Dalam konfigurasi ini, kelompok-kelompok guru hanya menangani sebagian dari seluruh siswa saja.
            Salah satu perubahan yang diimplementasikan di beberapa sekolah adalah usaha untuk mempersiapkan tahapan belajar agar lebih mirip dengan kehidupan sehari-hari, akan tetapi praktik ini juga prblematis. Sekolah biasanya menggunakan control aversif, dan hasilnya adalah siswa mengerjakan tugasnya karena menghindari konsekuensi dari tindakan mengabaikan tugas (Skinner, 1968b,1989b).
            Berbagai macam rekomendasi untuk mengatasi masalah edukasional yaitu memperpanjang tahun ajaran dan menyediakan sertifikasi nasional untuk guru. Namun, menurut Skinner, tidak ada institusi yang dapat merealisasikan kemajuan dan perkembangan kecuali ia menganalisis proses dasar yang menjadi tanggung jawabnya.
Belajar di Latar Ruang Kelas
            Ketika seorang guru menghadapi siswa 20-30 orang, maka muncul beberapa masalah pembelajaran, yaitu : (a) penguatan positif yang yang kurang sering, (b) tertundanya waktu antara perilaku dan penguatan (c) kurangnya program yang mengarahkan anak ke perilaku yang diharapkan.
Ada 3 asumsi yang menopang pendekatan Skinner untuk tekhnologi pengajara, yaitu :
a.       Analisis eksperimental juga berlaku untuk ruang kelas
b.      seperangkat perilaku di kelas mungkin dapat dibentuk dengan cara yang sama seperti perilaku lain
c.       Tekhnologi dibutuhkan untuk memberikan lebih banyak penguatan bagi respon behavioral
Komponen Pembelajaran
            Konsep-konsep yang diperkenalkan Skinner untuk dipertimbangkan dalam perencanaan ruang kelas antara lain:
a.       Stimuli diskriminatif (kejadian spesifik yang akan direspon oleh siswa)
b.      Kontingensi penguatan, termasuk mengontrol kesuksesan siswa
c.       Dinamika ruang kelas, yaitu memperkuat perilaku yang tidak kompatibel denga perilaku yang mengganggu.
Memilih Stimuli Diskriminatif
      Pengajaran terjadi ketika respons muncul untuk pertama kali dan diperkuat. Elemen penting dalam proses ini adalah stimuli diskriminatif. Stimuli diskriminatif berfungsi ssebagai isyarat bagi perilaku tertentu. Dalam lingkungan sosial kelas, berbagai macam stimuli verbal berfungsi sebagai stimuli diskriminatif untuk mengarahkan perhatian siswa. Selain itu, manajemen kelas yang baik dapat menggunakan stimuli nonverbal dan mereduksi kebutuhan petunjuk lisan.
Transfer Kontrol Stimulus
      Proses ini terjadi melalui dua cara yaitu :
a.       perilaku diperkuat sendiri
b.      perilaku berada dalam control stimuli internal.
Kegagalan untuk memberikan transfer control stimulus adalah salah satu kesalahan utama yang dijumpai dalam pembelajaran mikrokomputer.

Mengembangkan Perilaku yang Tidak Cocok dengan Respons Lain.
Eliminasi perilaku yang tidak tepat membutuhkan penguatan perilaku yang tidak kompatibel atau tidak cocok dengan perilaku tersebut. Proses ini dimulai dengan menta stimuli diskriminatif alternative yang dapat memicu respons yang berbeda.
Isu saat ini tentang suasana kelas merupakan arti penting dari peran guru dalam membangun kelas yang berorientasi penguasaan mateir. Salah satu tujuannya adalah mendorong upaya siswa kea rah belajar dan penguasaan, dan mereduksi terpecahnya focus siswa karena hal yang lain.
Isu-isu dalam Memilih Penguat Potensial
Dua tipe penguat untuk kelas adalah :
a.       penguat alamiah, yaitu kejadia-kejadian yang ada dalam situasi tertentu memberikan tanggapan non-aversif
b.      Penguat terencana, dalam pendidikan penguat yang direncanakan juga sering dibutuhkan sebagai jurang pemisah antara tahap awal belajar dan latar-latar dimana penguat alamiah dapat berfungsi. Penguat terencana juga mencakup komentar verbal, penolakan awal, dan waktu bebas.
Penarikan bertahap Penguat Terencana
Hal yang penting dalam menggunakan penguat terencana adalah :
a.       memperluas rasio antara respons dan penguat
b.      memasangkan penguat terencana dengan penguat lainnya
c.       secara bertahap menarik atau menghilangkan penguat terencana
Kunci untuk menggunakan penguat terencana secara efektif adalah :
a.    membatasi penggunaannya pada tahap awal pengembangan perilaku yang kompleks
b.    merencanakan menggunakan stimuli diskriminatif
c.    merencanakan kemunculan penguat alamiah
d.   secara bertahap menghilangkan penguat terencana saat perilaku meningkat.
Pemilihan Waktu Penguatan
Kesalahan pemilihan waktu (mistiming) dalam pemberian penguatan juga terjadi dengan pemberian materi belajar yang atraktif atau membuang waktu. Hal yang penting dalam perencanaan penguatan adalah menghindari penggunaan penguat secara berlebihan.

Masalah dalam Kontrol Aversif
Kontrol kelas sering mencakup penggunaan aversif maupun penarikan penguatan positif. Tujuan pendidikan adalah untuk memperkuat perilaku, bukan menekannya. Selain itu, penggunaan stimuli aversif sebagai penguat negative dan akan menyebabkan efek samping yang tidak diinginkan. Praktik ini menyebabkan reaksi emosional yang tidak diharapkan.Efek samping emosional mencakup apati,cemas, marah dan jengkel. Namun, teguran dapat efektif digunakan jika berbentuk teguran halu untuk beberapa perilaku.

Merancang Pembelajaran untuk Keterampilan yang Kompleks
Penempatan pembelajar dalam satu set kontingensi terminal adlaah situasi dimana pelajar dibiarkan melakukan kegiatan trial-error untuk menemukan keterampilan yang dibutuhkan untuk berhasil. Dalam latar sekolah, denga praktik “tugas dan tes”, siswa diminta untuk menulis makalah tanpa mengajari mereka keterrampilan pendukung.
Membentuk Perilaku Manusia
Mengembangkan keterampilan yang kompleks dalam kelas melibatkan unsure-unsur penting yaitu:
a.       memicu respons
b.      menguatkan peningkatan atau perbaikan yang halus dalam perilaku
c.       menyediakan transfer control stimulus secara bertahap
d.      menjadwalkan penguatan sehingga rasio penguatan dan respon perlahan meningkat.
Langkah pertama dalam perencanaan pembelajaran untuk membentuk perilaku adalah: menspesifikasikan dengan jelas perilaku yang hendak dipelajari. Langkah kedua yaitu mengidentifikasi keterampilan awal dari pelajar. Langkah ketiga adalah memprogram mata pelajaran dengan langkah terstruktur.
Brown (1994) mencatat bahwa pengkondisian berpenguat menimbulkan pemudaran (fading) dan perancahan (scaffolding) yaitu dukungan yang diberikan pada siswa pada tahap awal belajar.
Skinner banyak berkontribusi dalam dunia pendidikan. Salah satunya alat mekanis yang disebut mesin pengajaran yang dikembangkan oleh Skinner untuk mengajarkan mata pelajaran yang terprogram. Alat mekanis ini kemudian berkembang menjadi komputer. Komputer memang sanagt membantu para pengajar untuk mentransfer materi, tetapi Skinner memberikan rambu-rambu untuk hal ini. Banyaknya animasi yang bisa digunakan untuk memperindah materi dapat berakibat buruk bagi siswa karena hal ini bisa mengalihkan perhatian siswa dari belajar.

            Dalam Skinnerian dibahas pula karakteristik pemelajar yang diartikan sebagai perilaku tertentu yang dibawa siswa ke situasi belajar, dan karakteristik itu mungkin mempengaruhi perolehan perilaku baru. Karakteristik-karakteristik tersebut bisa dibagi menjadi 3 hal, yaitu perbedaan individual, kesiapan belajar serta motivasi. Dimulai dari perbedaan individual, menurut Skinner (1953), perbedaan individual dalam perilaku siswa berasal dari: genetik dan sejarah penguatan tertentu. Perilaku individu yang mengalami retardasi mental misalnya, adalah hasil dari warisan genetik. Namun program yang terencana dapat mengembangkan keterampilan baru (Skinner). Kemudian yang kedua adalah kesiapan belajar yang bisa diinterpretasikan sebagai level usia atau kematangan yang sebenarnya tidak bisa menentukan secara pasti ada atau tidaknya keterampilan yang penting (Skinner, 1953).  Dan yang terakhir adalah motivasi. Perilaku yang mengilustrasikan minat, antusiasme, apresiasi atau dedikasi, dimasukkan dalam deskripsi motivasi. Siswa yang rajin dan bersemangat, siswa yang menikmati membaca buku, dan ilmuwan yang berjam-jam bekerja di laboraturium, semuanya dikatakan memiliki motivasi atau termotivasi ( Skinner, 1968).

            Perilaku tertentu yang biasanya diidentifikasi dengan pemikiran harus dianalisis dan diajarkan (Skinner). Perilaku menurut Skinner juga bersifat tertutup atau tersembunyi (covert); perilaku itu adalah kejadian privat yang tidak dapat dilihat. Termasuk didalamnya adalah: (a) me-review fitur dari masalah tertentu atau menghitung jawaban matematika di dalam hati dan (b) visualisasi masalah atau situasi di ‘mata pikiran’ (penglihatan tersembunyi).

            Berkaitan dengan prilaku, menurut Skinner prilaku dikelas juga merupakan produk dari kontingensi yang terus berlangsung dan kompleks, mencakup situasi dimana guru dan murid saling memperkuat baik secara positif maupun negarif.  Contohnya, siswa yang tidak diberi reinforce negatif oleh temannya karena menjawab pertanyaan guru dan mendapat penguatan pula dari sang guru, siswa tersebut akan berusaha sesering mungkin menjawab pertanyaan. Dan jika guru hanya memanggil siswa yang mengacungkan tangan, siswa akan mengacungkan tangan. Demikian pula guru yang diperkuat oleh jawaban yang benar akan memanggil siswa yang tangannya diacungkan. Namun, guru yang diperkuat oleh jawaban yang salah akan melakukan kontrol aversif,  dan mereka biasanya memanggil siswa yang tidak mengacungkan tangannya. Maka dari itu dalam merancang lingkungan kelas untuk memodifikasi perilaku harus mempertimbangkan karakteristik penguatan timbal balik dari latar sosial.

            Skinner juga mengajarkan konsep pemecahan masalah yang secara formal didefinisikannya sebagai setiap perilaku yang melalui manipulasi variabel-variabel, menyebabkan kemunculan solusi lebih dimungkinkan.

            Guru kelas dapat menggunakan teknologi Skinner dengan 3 cara, yakni:
1.      Menggunakan stimuli diskriminatif dan penguatan dalam interaksi di kelas secara tepat
2.      Mengimplementasikan langkah-langkah pembentukan di dalam pengajaran
3.      Menyusun materi pengajaran yang diindividualisasikan

Salah satu aplikasi penting dari teknologi Skinner adalah mengembangkan iklim kelas yang positif. Skinner (1973) mencatat bahwa pendekatan yang jelas, seperti keegasan tindakan, mungkin diperlukan dalam kelas yang sangat ribut. Namun, guru dapat membuat transisi dari hukuman ke penguatan positif dengan satu perubahan sederhana-dengan merespon kesuksesan siswa. daripada menunjukan apa kesalahan siswa, lebih baik tunjukkanlah apa yang telah mereka lakukan dengan benar. Hasilnya menurut Skinner, akan berupa situasi kelas yang membaik dan pembelajaran yang lebih efisien.

Ternyata ada beberapa pihak yang mengkritik prinsip Skinner. Yang dikritik adalah teknologi untuk analisis eksperimental atas perilaku manusia yang kompleks masih belum lengkap. Beberapa siswa merespons dengan baik dalam situasi yang sangat terstruktur di mana tujuan dan langkah yang mesti diambil dispesifikasikan dengan jelas. Tetapi siswa lainnya diperkuat oleh kesempatan untuk melakukan eksplorasi sendiri dan mengaitkan ide-ide tanpa petunjuk eksternal. Prosedur untuk mengidentifikasi perbedaan ini dan perbedaan lainnya dalam berbagai macam penguatan potensial masih belum dikembangkan.